Sunday, December 21, 2014

Review Stand By Me Doraemon, Nggak Perlu Tisu Untuk Usap Air Mata!



Mengetahui film animasi terbaru Doraemon yang dibuat dalam bentuk 3D CGI akan tayang di Indonesia, saya langsung tertarik untuk menyaksikannya, karena selama ini film Doraemon selalu ditayangkan dalam bentuk 2D.

Berjudul Stand By Me Doraemon, film animasi yang diadaptasi dari manga legendaris karya Fujiko F. Fujio ini berkisah mengenai kedatangan cucu Nobita, Sewashi Nobi, dari masa depan untuk mengubah kehidupan kakeknya itu dengan bantuan robot kucing bernama Doraemon.

Sebelum tujuannya tercapai, Sewashi tidak membolehkan Doraemon untuk kembali ke masa depan. Apabila Doraemon menolak, akan ada hukuman secara otomatis yang diterima oleh Doraemon dan itu menyakitkan. Robot dengan berbagai alat mutakhir dari masa depan itu hanya bisa kembali setelah Nobita bahagia.

Kebahagiaan Nobita pada film ini ditargetkan dengan masa depan yang menyatakan bahwa ia akan menikah dengan Sizuka, teman sekelasnya di Sekolah Dasar. Dikarenakan di masa depan, Nobita dikabarkan menikah dengan Jaiko, adik dari Giant, teman terkuat yang selalu mengganggu dan memukulinya.


Trailer

Hal yang digembar gemborkan dari film ini oleh media adalah alur cerita yang menyentuh dan bahkan penonton membutuhkan tisu untuk mengusap air matanya ketika nonton Stand By Me. Hanya saja, apakah anggapan itu benar?

Pada ulasan ini, saya akan memberikannya tanggapan dari sudut pandang saya sendiri dari film yang katanya super mengharukan ini.

1. Anak Mesum

Apaan sih ini, saya sudah tau kalau Nobita itu sangat menyukai Sizuka dan ia ingin menikah dengan teman sekelasnya yang hobi mandi itu di masa depan. Tapi, di Stand By Me, keinginan Nobita itu digambarkan dengan sangat berlebihan hingga saya berfikir dia adalah anak yang mesum.

Di sini, ia digambarkan sebagai anak yang menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, termasuk hati dari Sizuka. Saya sangat salut dengan Dekisugi, maaf spoiler, ia memiliki idealisme yang luar biasa ketika kesalahan terjadi pada alat Doraemon yang menyebabkan Sizuka jatuh cinta pada dirinya.

Silakan anda tonton sendiri adegannya di Stand By Me, masih di menit-menit awal kok.

2. Anak Manja yang Selalu Menang

Najis banget liat sifat Nobita. Saya tidak pernah melihat Nobita semanja dan semerengek ini di serial televisinya. Dengan bantuan dari alat mutakhir Doraemon, ia mampu mendapatkan apapun yang diinginkan. Termasuk mendapatkan hati Sizuka dan rasa simpati dari Doraemon yang pada awalnya enggan utnuk membantunya.

Yah, walaupun begitu. Ada pesan di balik apa yang ditampilkan oleh Nobita yakni berusahalah sekuat tenaga untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan usaha sendiri, bukan bantuan alat. Tapi kenyataanya, Nobita tidak bisa apa-apa tanpa alat dan abntuan Doraemon.

Bahkan, maaf spoiler, kembalinya Doraemon ke zaman Nobita kecil itu, dikarenakan alat yang ditinggalkan Doraemon ketika Nobita menghadapi masalah sulit. Alat pembalik kebohongan, dan mewujudkannya jadi kenyataan.

3. Jelek Tidak Boleh Bahagia

Apa salah Jaiko coba? Kenapa di film ini ia digambarkan sebagai anak perempuan yang nakal. Padahal di serial televisinya sendiri, ia adalah komikus yang kalem dan pemalu. Yah, mungkin  ia nakal sesekali tapi jangan jadikan itu sebagai patokan.

Di sini saya juga menilai bahwa buruknya wajah seseorang menjadi tolak ukur kepantasan seseorang untuk bahagia. Apakah orang jelek tidak boleh bahagia? Kalau iya, dunia ini tidak adil.

4. Tidak Inspiratif

Hampir seluruh film Doraemon memiliki akhir yang mengharukan, saya akui itu dan mata saya sendiri sering berkaca-kaca ketika menyaksikan akhir dari cerita dari film Doraemon. Saat kecil, saya sampai meneteskan air mata ketika nonton film Doraemon yang berjudul Doraemon: Nobita's Dinosaur.

Hanya saja, saya merasa tidak perlu merasa terharu ketika menyaksikan akhir dari film yang menurut teman-teman saya menampilkan akhir yang sedih banget. Mungkin anda bisa berfikir bahwa saya tidak punya hati, tapi khusus film ini, saya tidak merasakan atmosfer film Doraemon yang inspiratif.

5. Kekerasan di Balas Kekerasan

Mana Nobita yang rendah hati dan pemaaf? Di penghujung film ini, maaf spoiler lagi, ada adegan yag menampilkan Nobita bertarung melawan Giant hingga ia babak belur demi membuktikan bahwa ia mampu hidup tanpa bantuan Doraemon.

Ini film Doraemon, bukan film Dragon Ball yang mengharuskan Nobita untuk  bertarung habis-habisan untuk menyelamatkan dunia dari serangan penjahat. "Giant itu temen loe kali, bukan monster yang mengancam keamanan bumi."

-***-

Terlepas dari kekecewaan saya pada Stand By Me Doraemon, hal yang saya sukai adalah film ini menghadirkan membawa kenangan masa kecil bagi penonton yang telah mengikuti serial dan filmnya dari awal, dan pengenalkan asal usul keberadaan Doraemon di rumah Nobita bagi pemirsa baru, khususnya anak-anak zaman sekarang.

Di samping itu, saya memuji detail dari grafis 3D GCI yang ditampilkan pada film ini. Keren banget, karakter-karakter di film Doraemon ditampilkan dengan sangat hidup, tanpa menghilangkan ciri khasnya.

Apabila anda menilai saya tidak terharu sama sekali saat nonton film yang dibuat untuk memperingati 80th Anniversary Doraemon, ya nggak juga sih, karena ada juga adegan yang membuat saya agak terharu.

Kesimpulannya, secara keseluruhan saya menilai film ini sangat bagus dari sisi grafisnya. Tapi dari alur cerita, tidak cukup bagus jika dibandingkan dengan kisah dan pesan inspiratif yang disuguhkan dalam film-film Doraemon sebelumnya.

Skor: 7/10

No comments:

Post a Comment

Optimaks.com The Otaku OPTIMAKS design by Kaizen Template