Monday, March 31, 2014

Review The Raid 2: Berandal


Long weekend ini saya mendapat undangan untuk nonton film Indonesia terbaru di bioskop yang berjudul The Raid 2: Berandal di Blitzmegaplex, Grand Indonesia. Selain saya, ternyata banyak juga undangan yang hadir dan beberapa undangan lainnya adalah teman saya. Saya sampai tujuan jam 15.00 WIB dan pada waktu itu para pemain dari The Raid 2: Berandal keluar dari studio 1 dimana saat itu sedang diadakan nonton bareng dengan pada aktor laga film tersebut. Ada Iko, Yayan, Cecep, Alex dan hadir juga disana Joe Taslim.

Lumayanlah bida melihat secara langsung para pemeran yang ada di film yang heboh banget itu. Saya pun mengetahui kenyataan bahwa tinggi Iko lebih pendek dari saya sedangkan Joe Taslim ternyata lebih tinggi. Padahal perkiraan saya itu Iko lebih tinggi daripada Joe Taslim. Ternyata terbalik. Acara ini juga dihadiri oleh Gareth Evans, Director dari The Raid series.

Rama terjerumus ke dunia yang semakin hitam. Agar dapat bertahan di dunia gelap itu, dirinya harus menyamar dan berbaur dengan para pelaku kejahatan kelas kakap. Jalannya semakin mulus ketinya Rama bertemu dengan Ucok.

Film ini akan menujukkan kepada anda sisi lain dari dunia genster yang penuh konflik, penghianatan dan pembantaian.

Para pemeran pada film ini:
- Iko Uwais (Rama)
- Arifin Putra (Ucok)
- Yayan Ruhian (Prakoso)
- Alex Abbad (Bejo)
- Cecep Arif Rahman (pembunuh bayaran)
- Julie Estelle (gadis palu)

Nilai: 3.5 dari 5

Tanggal rilis: 28 Maret 2014

Dari awal pemutaran film saja, aksi pembunuhan sudah dimulai dan itu sadis banget dimana pembunuhan itulah yang menjadi alasan Rama untuk masuk ke dalam dunia genster yang penuh dengan kekerasan itu.

Mengenai alur cerita, ya sudahlah iya. Saya tidak berharap cukup banyak untuk film yang menampilkan aksi laga yang mengagumkan. Tidak terlalu mendalam, cukup mudah dimengerti dan terkesan kurang jelas. Namun aksi dari para pemeran saat bertarung, khususnya jagoan sangat seru, brutal dan meyakinkan. Walaupun sangat hebat, mereka juga realistis karena masih bisa terpukul dan terluka. Koreografinya sangat keren, artistik, sadis dan gerakan bertarung dari setiap aktor sangat berteknik. Puas banget saya nonton keseruan selama hampir 150 menit.

Nah, saya memberi perhatian khusus pada tokoh Prakoso (Yayan Ruhian). Pada The Raid pertama, pmeran Prakoso ini juga berperan sebagai Mad Dog, si gereget yang menjadi meme di dunia maya. Si Prakoso ini, memberikan inspirasi kepada saya dan pada jomblo ngenes (pria) bahwa siapapun bisa mendapatkan pasangan yang cantik. Asalkan dapat memenuhi kebutuhan orang yang disayangi, hahah.

Ada banyak aktor senior yang muncul di film ini, walaupun saya tidak mengenal mereka satu per satu tapi saya tahu wajahnya. Misalnya Roy Martin, Cok Simbara, lalu pembuat film porno itu saya lupa namanya dan beberapa lainnya. Gaya bahasa yang digunakan oleh para aktor senior itu cukup gaul atau selengean, loe gue bangsat. Namun cara pengucapannya itu sopan, jadi kesannya aneh.

Mengenai akting, saya merasa banyak tokoh yang terkesan kaku dan kurang menghayati peran. Mungkin karena gaya bicara yang gaul itu kurang cocok untuk mereka. Jadi kalau menunjukkan amarah dengan mengucap kata kasar, jadi terkesan lucu gitu. Hal menarik yang diperlihatkan di The Raid 2: Berandal adalah kemunculan si cantik Julie Estelle sebagai pembunuh bayaran dengan senjata 2 buah palu. Akting Julie sangat meyakinkan, sayangnya dia berperan sebagai gadis tuna wicara sehingga aktingnya saya rasa kurang maksimal.


Adegan si cantik Julie Estelle

The Raid 2: Berandal juga menampilkan penampakan teknologi komunikasi zaman dulu, Pager, alat komunikasi yang menjadi cikal bakal SMS. Alat itu digunakan oleh Prakoso, walapun teknologi sudah banyak yang canggih dan di Prakoso itu memiliki uang yang bnayak tapi dia belum bisa move on dari Pager. Atau mungkin karena tokoh Prakoso itu gaptek, bodo amatlah iya yang pending dia jago berantem.

Hal yang menurut saya sangat aneh adalah turunnya salju di Indonesia. Hal itu dilakukan oleh Gared Evans untuk memberikan efek yang lebih dramatis terhadap darah yang mengalir. Setidaknya itu yang dikatakan Gared pada sesi tanya jawab setelah nonton bareng selesai. Adegan itu juga muncul pada adegan Prakoso, nampaknya tokoh ini membuat The Raid 2: Berandal menjadi sangat unik.

The Raid 2: Berandal juga menampilkan adegan kejar-kejaran mobil yang sangat seru, dengan tembak-tembakan yang sangat menegangkan. Lokasi syuting film ini juga sangat familiar antara lain yang saya ketahui (semoga saya tidak salah tebak) adalah terminal Blok M, Little Tokyo Blok M (lokasi event Ennichisai), fly over Kuningan dan fly over Jagakarsa.

Secara keseluruhan, The Raid 2: Berandal merupakan film aksi yang sangat seru, sadisnya gila-gilaan dan menampikna politik dunia hitam yang sangat menyeramkan. Nampaknya di film ini nyawa manusia itu tidak ada harganya dibandingkan dengan uang. Namun saya sarankan, jangan biarkan anak di bawah umur nonton film ini karena mayoritas adegan yang ditampilkan tidak layak untuk dilihat oleh anak-anak.

Bukan mengenai film tapi penonton yang nonton film ini bareng dengan saya. Saat ada adegan seru, mayoritas penonton melakukan aksi tepuk tangan bersama. What the hell, dikira nonton bola atau siaran langsung kali iya. Selesai nonton, saya bertemu dengan komunitas yang menamakan dirinya Movie Gowers Indonesia (Twitter @moviegowersID). Jika anda adalah penggemar film dan gemar nonton di bioskop, tidak ada salahnya untuk bergabung dengan mereka.

No comments:

Post a Comment

Optimaks.com The Otaku OPTIMAKS design by Kaizen Template